Oct 11-15th 2013

Ubud Writers and Readers Festival


Menguak Kisah Marsinah

Slamet Rahardjo meniupkan roh Marsinah ke atas layar perak. Film Marsinah lebih memotret sosok Marsinah dari mata Mutiari—tokoh yang dituduh sebagai otak pembunuhan—daripada menggunakan pendekatan biografis. Bagaimana Slamet menampilkan adegan penyiksaan?

Marsinah (Cry Justice)

Sutradara : Slamet Rahardjo Djarot

Skenario : Agung Bawantara, Karsono Hadi, Tri Rahardjo, Slamet Rahardjo, Eros Djarot

Pemain : Megarita (Marsinah), Diah Arum (Mutiari)

Produksi : PT Gedam Sinemuda Production


SEKELEBAT gambar hidup, sekelebat jeritan, sekelebat kematian. Marsinah hadir dalam adegan-adegan yang begitu cepat, susul-menyusul berdesakan dengan potongan gambar lain. Dia datang begitu cepat dengan semangat menggebu untuk memperjuangkan kenaikan upah buruh dari Rp 1.700 menjadi Rp 2.250 per hari. Dan dia pergi begitu cepat pada suatu malam tanggal 5 Mei 1993 dan tak pernah kembali. Empat hari kemudian, ia ditemukan tergeletak tak bernyawa dengan kondisi yang mengerikan di Dusun Jegong, Wilangan, Nganjuk, Jawa Timur.

Tokoh Marsinah dalam rekaan sutradara Slamet Rahardjo Djarot hanya tampil dalam durasi yang begitu pendek. Namun, rohnya hidup hingga akhir film ini. Jika begitu banyak yang memprotes kenapa film ini memberikan porsi yang lebih banyak kepada Mutiari, harus dipahami bahwa penonton (Indonesia) tampaknya masih terbiasa dengan pendekatan biografis, terutama bila sosok yang diangkat sudah menjadi ikon, lambang, atau pahlawan.

Film ini pada akhirnya memang hanya mengambil satu cuplikan periode peristiwa yang dimulai dari demonstrasi para buruh PT Catur Putra Surya; disusul kematian Marsinah; pencidukan sembilan orang tertuduh, termasuk Mutiari, kepala personalia per-usahaan itu, yang dianggap sebagai otak pembunuhan; hingga pengadilan para tersangka. (more…)


Goenawan Mohamad

‘1965’ has become a kind of code to decipher: what Sundanese call a ‘titimangsa’, a code for a catastrophic occurence—something called ‘historic event’—and because of this, always simplifi ed. The murder of a group of generals. The terrifying revenge against the Indonesian Communist Party. The beginning of traumatic change in the history of Indonesian politics.

                We know that ‘1965’ is much more than that. “History is the stride of a heartless giant,” the words in the novel Amba say, in a letter that has been hidden for years beneath a tree on the island of Buru after the writer, a doctor and political prisoner, was murdered. “History removes ordinary people from the records.”

 The novel Amba portrays people who have been removed from the records of 1965—as does the novel Pulang.

For some reason, these two lengthy novels appeared close to each other in 2012. Amba, by Laksmi Pamuntjak, describes in wonderful prose the life of a young woman who is the daughter of a teacher in the small town of Kadipura, the changing and tense atmosphere in Central and East Java, the violent clashes in Yogya, and finally the life of those exiled on Buru Island. Pulang, by Leila S. Chudori, in lively and captivating narrative tells the story of those who were forced to become exiles in Europe, or who were killed in Jakarta, because they were considered to be ‘Communists’—and also their families, friends and children.

 For some reason, it seems that 2012 was the year of remembering. ‘1965’ is the focus. A special edition of the journal Tempo published interviews with those who took part in murdering Communists or those suspected of being Communists around 1965; this was the fi rst time that such reporting had ever been published in Indonesia.

 Then there was the documentary fi lm The Act of Killing by Joshua Oppenheimer about the 1965 executioners who were making a fi lm about their own exploits at execution, a documentary at times funny in parody-like way, at times cocky, disgusting, and horrifying—a film that Zen Rs fittingly decribed as “a grotesque picture of Indonesianness.” (more…)



Cetakan 1 : 2015

(Pengembangan dari ‘9 dari Nadira’ dengan dua tambahan cerita:

“Sebelum Matahari Mengetuk Pagi” dan “Dari New York ke Legian”

Penerbit : PT Kepustakaan Populer Gramedia

Tebal :  301 halaman

Ilustrasi muka dan dalam : Ario Anindito

Harga   : Rp 70 ribu

Beredar di Toko Buku Gramedia atau pesan online www.gramediaonline.com atau www.grazera.com atau https://twitter.com/GrazeraCom

leila-malam-terakhir0 Malam Terakhir

Terbit Pertamakali 1989

Penerbit PT Pustakan Utama Grafiti

Tebal : 205 Halaman

Pengantar : HB Jassin

Ilustrasi Halaman Muka dan Dalam : Edi RM

leila-malam-terakhir-1 Malam Terakhir

Terbit Ulang : Cetakan Pertama, 2009

Penerbit : PT Kepustakaan Populer Gramedia

Tebal : 117 Halaman

Pengantar dari Penulis

Ilustrasi Halaman Muka: Maryanto

leila-malam-terakhir Malam Terakhir

Cetakan ke 2, 2013

Penerbit: PT Kepustakaan Populer Gramedia

Tebal : 117 Halaman

Ilustrasi : Jim Bary Aditya

Beredar di Toko Buku Gramedia atau pesan online www.gramediaonline.com

leila-9-dari-nadira-1 9 dari Nadira

Cetakan 1, 2009

Cetakan ke 2, 2010

Penerbit : PT Kepustakaan Populer Gramedia

Tebal : 267 Halaman

Pengantar dari Penulis

Ilustrasi muka dan dalam : Ario Anindito

Beredar di Toko Buku Gramedia atau pesan online www.gramediaonline.com

leila-pulang Pulang, Sebuah Novel

Cetakan 1, Desember 2012

Cetakan 2, Januari 2013

Cetakan 3, Maret 2013

Cetakan 4, Desember 2013

Penerbit : PT Kepustakaan Populer Gramedia

Tebal Halaman: 464 halaman

Ilustrasi muka dan dalam: Daniel Cahya Krisna

Beredar di Toko Buku Gramedia atau pesan online www. grazera.com atau www.gramedia.com

Untuk e-book pembelian “Pulang” hubungi: http://www.getscoop.com/buku/pulang-27248

leila-malam-terakhir Pulang, Sebuah Novel

Cetakan 5, September 2014

Penerbit : PT Kepustakaan PopulerGramedia

Tebal Halaman: 464halaman

Ilustrasi muka dan dalam: Daniel Cahya Krisna

Beredar di Toko Buku Gramedia atau pesan online www. grazera.com atau www.gramedia.com

Untuk e-book pembelian “Pulang” hubungi: http://www.getscoop.com/buku/pulang-27248


Translations by
Pamela Allen, Jennifer Lindsay,
John H. McGlynn,
Claire Siverson, and Sandra Taylor

Modern Library of Indonesia Series
The Longest Kiss by Leila S. Chudori

The protagonists of the stories in this translated collection all crave a private domain, a place that nobody else can touch. They share with their creator a passion for words, a passion for writing and a passion for literature. These characters are feisty, non-conformist, and fiercely independent—traits that do not necessarily serve them well in the constraints of the conservative environments in which they find themselves, be that the environment of their family, their work or their country.To read the stories in this collection is to enter the private domain of the characters who populate them. And yet it is also to share with those characters their quest for the most elemental thing in life: meaningful connections with other human beings. These stories remind us that that quest is at one and the same time the most fundamental and the most difficult endeavor of human

Prof. Pamela Allen

Leila S. Chudori was born in Jakarta in 1962. She completed her undergraduate studies in political science and comparative development studies from Trent University, Canada. Her writing career began at the age of 12, when her stories were published in the magazines Si Kuncung, Kawanku and Hai. She continued to write prolifically as an adult, mostly short stories, which were published in literary magazines in Indonesia, the Philippines and Malaysia and collected in the anthologies Malam Terakhir (1989) and 9 dari Nadira (2009). Most recently she has published, Pulang (2012), about Indonesian political exiles living in Paris. Her stories have been translated into English and German. Leila works as a journalist for Tempo, as well as being an editor and scriptwriter for film and television.

Size: 14 x 21,5 x 1.8 cm, weight: 250 gr.
Pages: 226 pp, Binding: Softcover
ISBN: 978-602-9144-29-1

Price: IDR 200,000, USD 24.00,-

For more information, please contact our Head of Finance and Marketing, Mrs. Tuti Zairati (Tuti) at The Lontar Foundation: Office Address: Jl. Danau Laut Tawar A53, Pejompongan, Jakarta Pusat, Indonesia 10210 Tel: +62-21-574-6880, Fax: +62-21-5720353, Mobile:+62-818-738-231 Email: tuti_zairati@lontar.org Website: www.lontar.org

RETOUR (translation of Pulang into English language)

(translation of “Pulang” into French)

Translated by     : Michel Adine and Éliane Tourniaire

Published by     : Pasar Malam + 453 pages, 2014

Introduction by: Didier Daeninckx

Read : http://www.leilaschudori.com/id/category/analisis/


“…C’est tout le mérite du livre de Leila S. Chudori que de témoigner de ce passé en apesanteur. Pour cela, elle ne plonge pas directement sa plume dans la rage, la fureur, les cris et les effrois. Non, elle choisit de suivre pas à pas les tribulations d’un groupe de rédacteurs de l’agence de presse Berita Nusantara (Les Nouvelles de l’Archipel) qui parviennent à échapper à un sort funeste et à tenter de construire une nouvelle vie sur les chemins de l’exil. Elle s’attache particulièrement à Dimas Suryo qui apprend le cataclysme qui ravage son pays alors qu’il fait partie d’une délégation représentant l’Indonésie progressiste dans des congrès au Chili à Cuba, avant d’échouer en Chine où se déchainent les démons de la Révolution Culturelle. Il parviendra à trouver une solution pour gagner la France que bouleversent les événements de 1968, mais où ses interlocuteurs n’ont jamais entendu parler des événements sanglants de septembre 1965, étant de plus incapables de pointer sur une carte la région du globe où se situe l’Indonésie…”

“ Adalah jasa buku Leila S. Chudori memberi kesaksian tentang masa lampau yang kabur ini. Untuk itu, dia tak langsung menyelamkan penanya dalam kemarahan, amukan, teriakan dan kengerian. Tidak. Dia memilih untuk mengikuti setapak demi setapak petualangan sekelompok wartawan kantor Berita Nusantara yang berhasil lolos dari petaka dan mencoba membangun kehidupan baru dalam jalan pengasingan. Leila mengikatkan diri secara khusus pada Dimas Suryo yang mendengar tentang bencana yang melanda negerinya saat ikut delegasi yang mewakili kalangan progresif Indonesia di sejumlah kongres di Chili dan di Cuba, lalu terdampar di Cina di mana Revolusi Kebudayaan sedang mengamuk. Dimas Suryo berhasil menemukan jalan untuk mencapai Perancis yang tengah bergolak dengan peristiwa tahun 1968. Tapi di sana orang yang dia temui belum pernah mendengar tentang peristiwa berdarah September 1965, bahkan tak mampu menunjukkan letak Indonesia di peta dunia.”

Order to :  Johanna Lederer

Association franco-indonésienne Pasar Malam
14 rue du Cardinal Lemoine – 75005 Paris
Téléphone : 01 56 24 94 53

“Pulang, Nostalgia, Harapan dan Kebebasan”

Robertus Robet


Home is where one starts from. As we grow older

The world becomes stranger, the pattern more complicated

Of dead and living.

 (T.S. Elliot, East Coker, “Four Quartets)

Ke mana kita pulang, rupanya bukan melulu urusan arah atau tempat dari mana orang berasal. Pulang bukanlah perkara teritori geografis yang melekat dalam ekslusifitas praktik rutin individual yang tanda materialnya tergeletak rongsok dalam rupa tiket kereta api yang dijepit atau karcis tol yang tercecer, atau sepatu dan sandal yang tertata di depan pintu rumah. Pulang rupanya adalah elemen kompleks dan paling emosional, resonansi terdalam dari pengalaman kehidupan yang seringkali bersifat epik.

Dua milineum lalu, Homer memulai kisah mengenai dahsyatnya hasrat ingin pulang. Odysseus diceritakan menerjang segala godaan, menghadapi berbagai monster guna memenuhi  rasa rindu paripurna untuk pulang ke tempat yang ia kenal pertama kalinya. Homer memberikan jiwa tokoh Odeysseus dengan hasrat untuk pulang.  Banyak penulis kemudian, seperti Homer –langsung maupun tak langsung, menjadikan pulang sebagai tema arketip. Penulis besar seperti Virginia Wolf, Doris Lessing hingga Tony Morrison, masing-masing pernah mengisahkan pengalaman nostalgis manusia, tentang hasrat yang sekaligus juga ratapan mengenai suatu tempat di luar sana.  Lalu hari ini kita menghadapi novel Pulang karya Leila S. Chudori.

Berhadapan dengan sebuah novel, kita diberi beberapa pilihan sikap. Pilihan  pertama, kita bisa menghadapinya dalam kerangka seorang ahli estetika dan ahli bahasa yang memeriksa seluruh pernik serta detail kelengkapan, tata bahasa, fakta dan keunggulan estetis sebuah karya. Dari situ kita menyajikan plus-minus, efek rasa dan dimensi estetis novel tersebut kepada pembaca.  Sikap kedua, kita bisa berdiri sebagai seorang Marxist, yang menilai sejauh mana novel ini mengungkap relasi-relasi sosial dan sejarah penindasan kelas.  Dari situ vonis kita jatuhkan dengan kategori: novel revolusioner atau novel kontra-revolusioner.  Sikap ketiga, kita bisa juga menghadapinya seperti seorang Michele Foucault. Melalui novel, kita memeriksa sejarah intelektual si penulisnya. Mengapa si penulis memilih A dan bukan B, mengapa si penulis memilih konsep atau ide A atau peristiwa B, apa kira-kira yang menjadi landasan dan kepentingannya? Doktrin kebenaran apa yang mau disajikan di dalam novel? Pilihan keempat, kita bisa mengambil sikap kesetaraan Ranciere. Dalam sikap ini yang utama bukan bagaimana novel menyajikan keadiluhungan estetiska, atau mengungkap kontradiksi kelas atau versi kebenaran apa, melainkan justru sejauh mana novel ini menerabas sekat-sekat estetis hingga bisa diresapi oleh orang banyak. Novel yang berhasil adalah novel yang secara estetis justru mampu menerjang klaim-klaim estetika dan ke-adiluhungan sehingga mampu dicerna secara setara oleh banyak orang. Cara kelima adalah cara paling mudah, dianjurkan oleh Richard Rorty.  Bagi Rorty, sebuah novel tidak perlu dilihat aspek intrinsik estetisnya. Yang penting adalah bagaimana kegunaan novel itu dalam rangka  ‘extensification of the self’ , sejuah mana sastra mampu mempeluas diri atau mereplikasi kemanusiaan ke dalam pembacanya hingga bisa menghalau fear and violences.

Oleh karena keterbatasan saya dalam bidang sastra, saya lebih menyukai pilihan keempat dan kelima: Ranciere dan Rorty. Oleh karenanya, soal teknis bahasa, gaya, diksi, teknis bagaimana plot disusun, bagaimana penokohan dibangun dan bagaimana level estetika, bukan menjadi urusan saya.  Yang terpenting bagi saya adalah bagaimana sebuah karya mampu menerjang dan merobohkan sekat-sekat linguistik dan estetis hingga ‘affect dan effectnya’ terasa bagi semua orang dan pada akhirnya ia mampu memperluas perasaan kemanusiaan. (more…)


Maman S Mahayana

Konsep cerpen—novel akhirnya gagal mempertahankan dirinya.[1] 9 dari Nadira (Jakarta: Kepustakaan Populer Gramedia, Oktober 2009, xi + 270 halaman) karya Leila S. Chudori boleh mengajari para penghamba teori untuk tidak lagi bersikukuh pada konsep.[2] Bukankah teks sastra yang melahirkan teori? Maka ia harus rela mendahulukan teks (sastra) yang berhasil menyibakkan rimbun teori dalam membuka jalan baru. Itulah yang terjadi pada 9 dari Nadira yang berada pada garis demarkasi cerpen—novel. Jadi, sinyalemen Budi Darma tentang 9 dari Nadira sebagai novel, patutlah dipertimbangkan.[3] Bahkan, mengingat

* Makalah Diskusi 9 dari Nadira, diselenggarakan Penerbit Kepustakaan Populer Gramedia, Jakarta, Salihara, 2 Agustus 2010.* Pengajar Fakultas Ilmu Pengetahuan Budaya Universitas Indonesia. Kini bertugas sebagai dosen tamu di Hankuk University of Foreign Studies, Seoul, Korea Selatan.[1] Sejak awal pertumbuhannya, konsep cerpen (cerita pendek) memang tidak mengadopsi konsep cerpen (short stories) dari Barat. Sejak sejumlah penerbit swasta menerbitkan karya-karya sastra, penyebutan cerita dan hikayat sering digunakan dalam pengertian yang sama. Penulisan kata Hikayat pada sejumlah cerita –novel dalam pengertian sekarang—seperti Hikajat Soeltan Ibrahim (1890), Hikajat Amir Hamzah (1891), Hikajat Njai Dasima (1896) karya G. Francis sampai ke Hikayat Kadirun (1920) karya Semaun, Hikajat Soedjanmo (1924) karya Soemantri serta karya para penulis Cina Peranakan menunjukkan adanya hubungan yang sangat dekat dengan hikayat dalam kesusastraan Melayu lama. Jika kita mencermati cerpen-cerpen Indonesia yang awal, maka di satu sisi, terbuktilah, bahwa penulisan prosa Indonesia modern dimulai dari cerpen, dan di sisi lain, menegaskan bahwa kesusastraan Indonesia tidak lahir dari sebuah kekosongan. Ada sebuah perjalanan yang bergulir mencari jati dirinya. Lihat saja majalah Sahhabat Baik yang pertama kali terbit Desember 1890, sebagai kelanjutan Soerat Kabar India-Nederland. Dinyatakan dalam semacam kata pengantar majalah itu: “Sabermoela kita mengchabarkan jang Soerat Kabar India—Nederland jang tjontonja tahoen lennyap di kirimkan kepada sekalijan orang isi negri di Tanah India—Nederland tidak boleh di teroeskan terbitnja, maka sebab ija tidak dapat pertoeloengan bagaimana mestinja… (dikutip sesuai aslinya), di dalamnya termuat cerita pendek berjudul “Tjerita Langkara dari Orang Isi Negeri jang Soeloeng di Poelaoe Djawa,” dan beberapa cerita pendek lain. Di dalam subjudulnya majalah itu, tercantum keterangan berikut ini: Hikajat, tjerita, dongeng, sjair, pantoen, dan lain-lain dari pada itoe. Di Koempoelkan dan di hijasi dengan bebrapa gambar ….”

[1] Konsep cerita pendek sebagai cerita yang ringkas dan padat –apalagi dengan singkatan cerpen—pada awal abad ke-20 memang belum begitu jelas. Cerita bersambung (feuilleton) juga disebut sebagai cerpen. Pada dasawarsa kedua abad ke-20 penamaan cerita pendek sudah mulai jelas menunjuk pada cerita-cerita yang pendek dan ringkas yang dimuat media massa. Meskipun begitu, masih banyak cerita bersambung yang disebut cerpen. Bahkan, pada zaman Jepang, cerpen pemenang pertama lomba penulisan cerita pendek, “Setinggi-tinggi Terbang Bangau” karya Andjar Asmara yang kemudian dimuat dalam majalah Djawa Baroe secara berturut-turut selama tujuh edisi (No. 1, 1 Januari 1943— No. 7, 1 April 1943), tetap disebut sebagai cerpen, meskipun jika dilihat dari jumlah halamannya lebih tepat dikatakan sebagai novel. Oleh karena itu, sangat wajar jika konsep cerpen belum begitu tegas benar.

[1] Budi Darma dalam backcover buku itu menyatakan: “Kendati potongan kisah dalam kumpulan ini ditulis dengan jeda yang lama, pada hakikatnya potongan ini bukan kumpulan cerpen (kecuali “Kirana”), namun sebuah novel yang utuh mengenai sebuah keluarga dari dua generasi ….” Lihat juga Budi Darma, “9 dari Leila,” Tempo, 6 Desember 2009, hlm. 44. (more…)


Leila S.Chudori


Today is the best day to meet You

Jakarta doesn’t have chrysanthemums. But I will search for them to the ends of the earth, so that Mother can close her eyes in peace.

Mother always used to say that she knew what would happen when she died. My older sister Nina would sob uncontrollably (maybe even howl); my older brother Arya would chant the Surah Yasin from the Qur’an with a calm voice while trying to hold back his tears. I would be doing all the pragmatic things those busy mourning don’t think about: reporting to the local authorities, organizing the burial plot, finding the prayer robes, organizing the food and bottles of mineral water for the guests, and finding pieces of batik cloth. And last but not least, the most important of all – something Mother never failed to mention—for sure I would be out scratching around for Mother’s favorite flowers, which are difficult to find in Indonesia: white chrysanthemums. She never mentioned jasmine, or roses, red or white. It had to be white chrysanthemums. (more…)

From New York to Legian

Leila S.Chudori


Legian, October 16, 2002

Bali was a place of silence, a place of despair. The sea was still; the waves had ceased rolling. The sky was black; the sand was mute. The moon was hiding its sullen face. A cluster of stars, hitherto loyal in their brightening up of the night sky, now took it upon themselves to visit the wounded. All the energy on the island was focused on the candles that had been lit by grieving hearts. Utara Bayu tried to talk to them all: the sea, the waves, the sand, the moon, the stars, and the sky. But he felt that the sand he was walking on was coarse and unwelcoming, so different from its normal friendly, accepting nature. The universe had come to a standstill and it was as if all the clocks on Bali had stopped ticking. This was Day Four after the bombs had exploded in the middle of the night. Utara knew that those bombs had, in an instant, stopped the clocks.

After walking for an hour, Utara stood at the water’s edge waiting for his colleagues to return to the hotel. They had all worked non-stop for the last three days, reporting from the Legian area and from Sanglah hospital, interviewing dozens of victims and police, and helping the teams of volunteers who were patiently and painstakingly looking for the human remains that were still strewn around the Sari Club and Paddy’s Bar. At one point they heard screams when somebody found a body part dangling from a tree branch; someone else discovered a corpse, relatively intact but burnt beyond recognition. For three days and three nights Utara heard nothing but a Bob Marley song “Three Little Birds,” sung by a group of volunteers working near the police cordon. Over and over they sang it, as if they were trying to convince themselves that those two deadly bombs would not make them surrender to evil. Utara’s stomach was churning, reminding him that he, along with his colleagues, had not eaten for some time, because they had had to focus on sending their reports back to their magazine Tera in Jakarta. A few minutes later he heard the roar of the three rented motorbikes carrying Andara, Monty, Yosrizal, Andini, Rianti, and the photographer Randi. (more…)

A Red Book and Carbolic Acid

By: Leila S.Chudori


“It’s sour,” said Suwarto, putting down his glass of orange juice. Marwan was away in a world of his own. He was gazing at the wall, transfixed by the swarms of ants scurrying back to their nests laden with crumbs of bread. He imagined them accumulating all the food and then enjoying a communal meal, the spoils divided equally among them all.

One particular ant was struggling with a big piece of bread. A few of those coming behind him stopped to help, and in an instant the piece of bread was divided into four. Marwan was impressed by their initiative.

“What is it?” said Suwarto, sensing Marwan’s captivation. Marwan didn’t reply. He merely squinted in concentration as he observed the antics of the tiny insects. This was a sure sign that he was miles away, absorbed in his own thoughts. Suwarto bit his lip. He was annoyed, but he didn’t want to disturb Marwan. In fifteen minutes he had to be in the darkroom, finishing off some photographs for the next issue of the magazine. Finally, clearing his throat, he looked meaningfully at his watch. For added effect, he pushed his chair back noisily—a sound that usually grated on Marwan’s nerves. It worked. Marwan glared at him.“Just come around to my place tonight. Go and do your pictures now,” said Marwan shortly, sensing Suwarto’s agitation.

“But if…”

Marwan didn’t hear. He was back in the world of the ants. (more…)

Excerpt From Pulang, a Novel

Leila S.Chudori


On Sabang Street, Jakarta, April 1968

Night had fallen, without complaint, without pretext. Like a black net enclosing the city; like ink from a monster squid spreading across Jakarta’s entire landscape—the color of my uncertain future.

In the dark room, I knew not the sun, the moon, or even my wristwatch. But the darkness that enveloped this room was imbrued with the scent of chemicals and anxiety.

Three years ago, the Nusantara News Office where I worked, had been cleansed of lice and germs like myself. The army was the disinfectant. We, the lice and the germs, had been eradicated from the face of the earth, with no trace left. Yet, somehow, this particular louse was eking out a living at Tjahaya Photographic Studio  in central Jakarta on the corner of Jalan Sabang.

I switched on the red light to check the negatives hanging on the drying-line over my head.

It was just after 6 p.m. because I could hear the soft sound of the muezzin drifting in through the room through the door grate, summoning the faithful for evening prayer. I imagined the atmosphere on Jalan Sabang outside: the quarrelsome cackling of motorized pedicabs; the huffing and puffing of slow-moving opelets searching for passengers; the creaking of human-driven pedicabs in need of an oil job; the cring-cring sound of hand bells on bicycles as their riders wove their way through the busy intersection; and the cries of the bread seller. (more…)