MENIKMATI WALTER MOODY DAN 12 BINTANG DI LANGIT

9999--the--luminariesInilah pemenang Man Booker Prize termuda dalam sejarah. Di dalam sesi tunggal Perth Writers Festival akhir Februari lalu, Eleanor Catton berkisah tentang novelnya.
***
THE LUMINARIES
Penulis    : Eleanor Catton
Tebal :  832 halaman
Penerbit    : Granta Publications, 2013

“The twelve men congregated in the smoking room of the Crown Hotel gave the impression of a party accidentally met. From the variety of their comportment and dress – frock coats, tailcoats, Norfolk jackets with buttons of horn, yellow moleskin, cambric and twill –they might have been  twelve  strangers on a railway car, each bound for a separate quarter of a city that possessed fog and tides enough divide them……”

Begitulah Eleanor Catton memulai novelnya yang luar biasa tebal itu. Tahun 1866, di sebuah desa bernama Hokitika di sebelah barat daya New Zealand, di sebuah malam yang dihajar angin badai, seorang lelaki muda bernama Walter Moody terjerembab di depan pintu sebuah ruangan pertemuan penuh asap rokok hotel Crown. Dua belas lelaki yang digambarkan pada pembukaan novel ini sedang berdiskusi dengan serius. Nama-namanya berbau dua abad lalu, seolah mencelat dari novel-novel Charles Dickens, misalnya Charles Frost, Dick Mannering dan Thomas Balfour. (more…)

SASTRA INDONESIA DI TIGA KOTA AUSTRALIA

TDSC_0198-john-dthillim Penerbit Yayasan Lontar melakukan perjalanan ke Hobart, Melbourne dan Perth untuk memperkenalkan buku-buku terjemahan sastra Indonesia. Pemanasan sebelum menuju Frankfurt Bookfair 2015.

 

                                                              ***

 

             Di kaki gunung Wellington, sebuah kota bernama Hobart memperkenalkan sastra Indonesia. Di pulau Tasmania, negara bagian di selatan , Direktur Yayasan Lontar dan penerjemah John McGlynn membawa 25 buah buku sastra Indonesia yang sudah diterjemahkan ke dalam bahasa Inggris sembari menggelar presentasi Why Translation Matters (Mengapa Penerjemahan itu Penting).

“Sejak dulu penerjemahan adalah alat komunikasi yang penting untuk menyebarkan gagasan,” kata John McGlynn bulan Juli lalu di hadapan ratusan peserta ICOC (Indonesia Council Open Conference) , sebuah konferensi  dua tahunan yang diselenggarakan dan dihadiri kalangan akademis Australia peneliti Indonesia.

McGlynn, yang  menetap di Indonesia sejak tahun 1970-an,  mendirikan Yayasan Lontar bersama Umar Kayam, Sapardi Djoko Damono, Goenawan Mohamad, Subagio Sastrowardoyo  25 tahun silam sebagai lembaga non-profit yang bertujuan menerjemahkan karya sastra Indonesia ke dalam bahasa Inggris. Sejak itu  Yayasan Lontar sudah menerbitkan puluhan novel, kumpulan puisi, antologi cerpen, naskah drama dan jurnal sastra berkala bernama Menagerie.

John menyampaikan tanpa penerjemahan maka mustahil terjadi pemahaman dan pelajaran sastra antar negara. John berhadapan dengan ratusan Indonesianis, antara lain nama-nama Indonesianis terkemuka seperti David T.Hill,  Pamela Allen, Barbara Hatley, Greg Fealy, Adrian Vickers atau mereka yang sedikit lebih muda seperti Stephen Miller dan puluhan kandidat PHD yang tengah melakukan penelitian tentang Indonesia. (more…)

KARYA SASTRA YANG MENGGUNCANG DUNIA

9999--200px-Rye_catcherJ.D SALINGER (1919-2010)

Nama J.D. Salinger, John Lennon, dan Mark Chapman sering disebut-sebut dalam satu kalimat. Itu karena psikopat Mark Chapman mengaku, novel sastra” The Catcher in the Rye” karya J.D. Salinger mempengaruhi hidupnya sehingga dia merasa harus menghabisi nyawa musisi legendaris itu pada 1980. Tetapi, sesungguhnya, apakah karya-karya Salinger itu memang demikian mempengaruhi jiwa? Mengapa sastrawan itu memilih hidup dalam kesunyian? Dan kenapa pula dia menyimpan beberapa novelnya di perpustakaan Universitas Princeton untuk dipublikasikan 70 tahun lagi? Tempo menyusuri karya dan hidupnya yang penuh enigma.

***

Kota New York,

8 Desember 1980, pukul 22.49.

Limusin hitam itu meluncur tepat di depan Apartemen Dakota. John Lennon dan Yoko Ono berjalan menuju pintu gerbang seusai sebuah sesi rekaman di studio rekaman Plant. Dari jalanan di muka apartemen, Mark David Chapman melepas buah peluru dari pistol revolver ke tubuh penyanyi legendaris itu. (more…)