CERITA PEMBALASAN DI TENGAH BADAI SALJU


Film kedelapan Tarantino yang masih saja mengejutkan dan menegangkan. Masih tentang pembalasan pada masa pasca Perang Saudara.

9999--hatefuleightposterTHE HATEFUL EIGHT

Sutradara         : Quentin Tarantino

Skenario          : Quentin Tarantino

Pemain                        : Kurt Russel, Samuel Jackson, Jennifer Jason Leigh, Tim Roth, Bruce Dern, Michael Madson, Channing Tatum

Quentin Tarantino adalah seorang pencerita ulung. Master of storyteller. Tak ada yang lebih asyik daripada menyaksikan dan mendengarkan tokoh-tokoh ciptaan Tarantino beraksi. Gambar dan kata sama-sama penting, dan di dalam dunia Tarantino, keduanya  sudah pasti akan menimbulkan ketegangan sekaligus kegairahan.

Di dalam filmnya yang kedelapan, kita dibawa ke periode awal pemerintahan Abraham Lincoln,  di sebuah padang luas di Wyoming yang baru saja digedor badai salju. Rekaman panorama ini untuk beberapa detik pertama memberikan suasana penuh tanda tanya: seorang Afro Amerika, Mayor Marquis Warren, bekas tentara yang berperang dalam Perang Saudara, yang terjebak di tengah badai salju. Sebuah kereta berisi John Ruth, sang Eksekutor—mereka menyebutnya The Hangman, karena hukuman mati sering dijalankan dengan menggantung. Di tangannya Ruth, terdapat borgol yang mengikat lengan Daisy Domergue (Jennifer Jason Leigh), seorang perempuan galak yang lebih dikenal sebagai seorang pembunuh bayaran jitu. Setelah tawar menawar yang rewel, John Ruth merelakan Mayor Warren untuk nebeng kereta mereka di tengah gempuran salju.

Meski adegan perbincangan di antara Ruth dan Mayor Warren cukup panjang dan sesekali dramatis –melibatkan tabok sana sini kepada Daisy Domergue yang melemparkan ucapan rasis kepada Warren—seperti biasa Tarantino hanya memberi info secukupnya tentang tokoh-tokohnya. Apalagi ada satu penumpang baru bernama Mannix (Walton Goggins) yang mengaku calon Sheriff di  Red Rock, maka perbincangan semakin seru dan sama sekali tak bisa dilewatkan karena semuanya membangun plot  cerita yang penuh kejutan.

Seperti film Kill Bill  dan Inglorious Basterds, film Tarantino ini juga dibagi-bagi per babak seperti sebuah novel.  Babak berikutnya adalah keputusan mereka untuk beristirahat di warung Mini, karena badai salju semakin parah. Di warung tersebut, mereka tak bertemu pemiliknya ibu Mini, melainkan tokoh-tokoh baru yang tak dikenal, yakni seorang koboi Meksiko bernama Bob (Demián Bichir);  seorang pensiunan  jenderal Konfederasi (Bruce Dern); seorang koboi raksasa yang malas bicara (Michael Madsen) serta seorang  lelaki Inggris yang ceriwis bernama Oswaldo Mobray (Tim Roth). Begitu Mayor Warren menyadari si pemilik warung Minie “menghilang”, kita semua sudah merasakan ada sesuatu yang salah. Suasana tegang karena setiap orang nampak memilik rahasia dan misi di dalam warung itu.

Bagi mereka yang belum perna menyentuh dunia Tarantino sebaiknya harus paham bahwa dia adalah sutradara yang sangat tidak mementingkan untuk bersikap “politically correct”. Dia bukan sutradara yang peduli reaksi  penonton terhadap tokoh-tokoh yang sumpah serapah dengan kata-kata kasar, misoginistik, atau memuncratkan berliter-liter darah seperti halnya yang dia gambarkan dalam film Reservoir Dogs, Inglorious Basterds dan Django Unchained . Bagi Tarantino, karena dia percaya plot harus dibentuk oleh karakter , maka semua karakter dalam film-filmnya termasuk film terbarunya ini semua kuat, saling mengisi dan memiliki misi dan tujuan.

Ada elemen detektif gaya bercerita Agatha Christie di mana ada beberapa orang yang “dikurung” dalam satu ruangan tertutup dan saling mencurigai siapa yang ingin membunuh dan siapa yang akan segera mati segera.

Ciri khas Tarantino dalam plotnya adalah: pembalasan dendam. Bahwa pembalasan dendam itu terasa pembalikan sejarah seperti dalam film Inglorious Basterds dan Django Unchained, Tarantino tak peduli, karena dia justru tengah mempermainkan mereka yang tertindas dalam sejarah. Di dalam film ini, para karakter tak diperkenankan untuk menjadi orang baik. Perbudakan baru saja dihapus, tapi tak berarti rasisme juga ikut-ikutan menguap. Ditambah lagi pembunuh bayaran dan kriminal yang sudah tak jelas batasnya, maka dua jam sama sekali tak terasa karena delapan tokoh penuh dendam dan benci itu sungguh menimbulkan ketegangan demi ketegangan hingga puncak yang berdarah. Yang agak unik, setelah beberapa babak , Tarantino memberikan sebuah babak kilas balik yang membutukan seorang pencerita. Dan khusus untuk babak kilas balik itu, suara Tarantino mendadak muncul sebagai si pendongeng.

Semua pemain tampil prima. Jennifer Jason Leigh dan Samuel Jackson adalah dua aktor  yang sangat menonjol dalam film ini. Tetapi yang tak boleh dilupakan adalah panorama Wyoming yang seolah ditutup selimut putih bersih itu dengan komposisi musik  megah  Ennio Morricone, film The Hateful Eight   adalah salah satu dongeng Tarantino yang mencekam. Tartantino akan melengkapi dengan kejutan demi kejutan pada setiap babak dan tentu saja babak akhir akan menjadi kejutannya yang terbesar.

Leila S.Chudori