PERSEMBAHAN TERAKHIR DARI UMBERTO ECO


NUMERO ZERO

9999--NUMEROKarya : Umberto Eco

Diterjemahkan ke dalam bahasa Inggris oleh Richard Dixon

Penerbit:  Houghton Mifflin Harcourt, 191 halaman

***

“Baiklah. Aku menyimpulkan kita sama-sama lelaki yang tidak bermutu dan tidak punya integritas,” kata Dottor Collona kepada Simei, “maaf untuk alusi ini. Aku aku terima tawaranmu,” kata Dottor Collona kepada Simei.

Sebuah kesepakatanpun terbuhul. Sebuah rancangan konspirasi besar dibentangkan.

Perkenalkan, inilah protagonis terbaru Umberto Eco yang bernama Dottor Colonna, seorang jebolan universitas yang tak sampai sarjana;  penulis gagal yang bergonta-ganti profesi. Sesekali dia mencari nafkah menjadi penyunting penerbit kecil atau menerjemahkan bahasa Jerman ke dalam bahasa Itali.  Kali lain Colonna menjadi ghost-writer novel detektif murah meriah.  Tawaran yang paling megah adalah menjadi ghost-writer  sebuah novel bertema jurnalistik investigatif  dengan tawaran yang duitnya sungguh menggiurkan dan bisa menghidupinya hingga akhir hayat.

Tugasnya : Collona dan timnya harus membuat 12 nomor  dummy koran Milan bernama  “Domani” yang isinya skandal (buatan) yang nantinya diharapkan membuat sang investor mundur dan membatalkan penerbitan koran itu. Yang penting : duit sudah masuk dan skandal palsu itu tak perlu diterbitkan.

Dengan gaya satir, kita menikmati bagaimana bos Simei menginstruksikan anak buahnya bahwa dummy harian mereka adalah pembaca tolol yang percaya  tahyul dan ingin mengisi teka teki silang dengan pertanyaan yang super-mudah.

Investigasi kemudian jadi berkembang ketika ada “klaim” bahwa pimpinan Iralia Mussolini yang dalam sejarah ditulis tewas karena ditembak pada tahun 1945, ternyata masih hidup dalam persembunyian. Berbagai “bukti” dibentangkan, dan perlahan-lahan, Colonna menyadari, ‘investigasi bohong’ itu semakin membahayakan.

Novel ini, meski tetap memiliki elemen investigatif, terasa sebuah kontras dengan novel The Name of the Rose (1980), karya fenomenal Umberto Eco. Novel termasyhur  yang mengambil setting Italia di abad ke-14 itu yang bercerita tentang kematian misterius beberapa rahib di sebuah biara. Seorang padri Fransiskan dari Inggris bernama William of Baskerville—jelas namanya dipengaruhi salah satu judul ceirta Sherlock Holmes—dikirim untuk melakukan investigasi semacam kerja detektif Sherlock Holmes versi para padri. William adalah “Holmes” abad tengah, Adso adalah sang murid yang berfungsi seperti dr.Watson yang penuh dengan pertanyaan yang mewakili pembaca.

Kontras novel novel fenomenal ini dengan karya terbaru Eco Numero Zero jelas pada gaya dan bahasa.  Serangkaian karya Eco sebelumnya selalu dianggap sebagai novel intelektual yang menyajikan referensi metatekstual ke sumber-sumber lain—yang layak dikejar jika kita ingin mengetaui makna simbol yang ditampilkan Eco. Untuk membaca novel-novel Eco, kita sendiri harus bergerak seperti seorang detektif yang mencari makna yang tersembunyi.

Numero Zero  dan The Name of the Rose sama-sama ditulis dari sudut pandang pertama. Tetapi karena protagonis Numero Zero adalah Colonna, yang sejak awal diperkenalkan sebagai pecundang, maka kita bertemu dengan seorang lelaki yang sadar sejak awal dirinya hampir tak memiliki harkat. Pecundang kelas bawah bertemu dengan penipu jagoan, bos besar yang mengajaknya merancang sebuah konspirasi besar. Maka, tidak bisa tidak, cerita ini membentangkan sebua parodi yang asyik dan ringan, sementara The Name of the Rose ditulis dalam bahasa dan diksi yang halus, puitis, sesuai dengan fitrah tokoh utamanya, William of Baskerville.

Tebal novel Numero Uno hanya 191 halaman, sangat tipis dibanding novel-novel Eco sebelumnya. Dengan bahasa ringan, lancar, bebas dari istilah Latin (yang memenuhi novel The Name of the Rose), novel ini menertawakan konspirasi dan situasi sosial politik modern Italia.

Diterjemahkan dengan mulus dan asyik ke dalam bahasa Inggris oleh richard Dixon, persembahan terakhir Eco ini seperti sebuah novel satiris yang bukan saja menghibur tetapi juga ucapan perpisahan Eco kepada pembacanya dengan cara anggun: dengan kata-kata, dengan simbol bahwa pada akhir hidupnya dia memberikan satu cerita terakhir.

LSC