SEORANG LELAKI BIASA YANG PENUH RAHASIA


A MAP OF BETRAYAL      

9999--HA JIN--2Penulis               :  Ha Jin

Penerbit              : Pantheon Books, 288 halaman

Sang Ibu berpesan pada puterinya Lilian, protagonis novel ini, “sepanjang aku masih hidup, jangan pernah kamu punya urusan dengan perempuan itu.”  ‘Perempuan itu’ adalah kekasih simpanan Ayahnya bernama Suzie. Lilian patuh.

Begini ibunya menghembuskan nafas terakhir, salah satu yang dilakukan Lilian adalah menemui Suzie, karena dialah yang paling mengetahui banyak hal tentang Ayahnya, Gary, seorang intelijen Cina yang pernah dihukum pemerintah AS. Dari Suzie, Lilian memperoleh  sebuah buku harian yang menunjukkan berbagai hal yang tersembunyi selama hidupnya. Lilian terkejut dengan banyak hal tentang Ayahnya yang ternyata memiliki isteri pertama yang berada nun di daratan Tiongkok sana.

Lilian memutuskan pergi menyeberang ke Beijing dan perlahan mencari jejak-jejak kehidupan Ayahnya, bagaimana ia kali pertama direkrut oleh intelijen partai hingga akhirnya dipercayakan untuk ditanam selamanya  di dalam CIA.

“Ayahmu adalah sebuah paku….tipe intelijem yang harus menetap di posisinya seperti sebuah paku. Dia harus menetap dan ikut membusuk bersama kayu yang ditempatinya,” kata Bing Wen Chu, bekas atasan Gary , salah satu narasumber Lilian yang menjadi penghubung Gary ke dunia luar.

Ha Jin, seperti biasa memulai novelnya dengan ledakan. Begitu dia memperkenalkan kata “kekasih gelap”, “intelijen”, CIA sekaligus protagonisnya Lilian—seorang anak campuran Tionghoa dan Amerika—kita langsung dibetot oleh rasa  tahu yang besar. Begitulah Ha Jin selalu memulai novel-novelnya. Dia akan memulai dari sebuah drama , sebuah peristiwa atau mendadak saja di sebuah kalimat, dan strategi ini akan membuat pembacanya tak mau melempar buku itu barang sejenak atau bahkan jeda. Pembaca ingin tahu apa yang terjadi dengan tokoh dokter Lin Kong dalam Waiting—salah satu novelnya yang sangat populer di Indonesia– akhirnya bisa bersatu dengan kekasihnya yang dicintainya?

Dalam Map of Betrayal, novelnya yang ketujuh—Ha Jin mengubrak abrik sebuah mitos tentang anggota intelijen. Gary Shang alias Weimin Shang jelas bukan seorang James Bond, bukan seorang spy yang meniduri semua perempuan cantik untuk memperoleh informasi. Gary Shang adalah seorang lelaki sederhana, yang dikawinkan kepada Yufeng, seorang perempuan dari desanya yang telah memberikan anak. Keterlibatannya dalam dunia intelijen menggelinding begitu saja tanpa rencana, tanpa peta. Dia ditanam oleh partai ke dalam CIA dan tak pernah bisa kembali selama-lamanya justru karena dia adalah tipe intelijen “paku” yang dibiarkan menempel hingga membusuk.

Jejak pengkhianatan yang perlahan terkuak dan diungkap oleh anaknya sendiri bukan hal yang baru dalam tema novel Ha Jin. Gary adalah adalah seorang anti-hero, seorang tokoh utama yang punya kebaikan hati, tapi lebih banyak kelemahan. Beristeri seorang Amerika selama di AS, yang kemudian membuahkan Lilian yang menjadi narator novel ini, Gary tak pernah tak jujur dari sikapnya bahwa dia tak mencintai isteri Amerikanya. Dia tetap terkenang dengan isterinya di daratan Tiongkok sementara dia juga memiliki kekasih gelap. Itu pengkhianatan urusan hati. Ada lagi persoalan politik.

Ha Jin hampir selalu menanam ranjau yang pada saatnya meledak dan memberikan rasa pedih dan belakangan sakit untuk waktu yang lama. Bahkan untuk pembacanya. Novel Ha Jin yang melejitkan namanya, Waiting (1999) yang sebetulnya kisah cintapun juga meninggalkan rasa pedih dan gelap karena tokoh-tokohnya tak pernah bahagia dan tak pernah mencintai perempuan yang dikawininya.

Di dalam A Map of Betrayal, kepedihan itu memang menceritakan serangkaian pengkhianatan luar dalam  yang lebih berakibat pada jiwa tokoh-tokohnya. Intelijen versi Ha Jin justru memberikan pembaca kisah nyata intelijen yang sesungguhnya bahwa mereka tak harus tinggi, tampan, berbaju perlente dan berwajah seperti Henry Caville dalam The Man from U.N.C.L.E. Justru intelijen yang “biasa” dan mudah mengaduk diri di antara masyarakat adalah yang lebih realistik.

Yang mengagumkan sebetulnya kemampuan Ha Jin menulis kalimat licin seperti: “Despite the distance of an ocean and a continent, he could feel China’s pulse…which beat irregularly, racing feverishly, as though he could at last grasp intimately his vast homeland in its entirety.”

Sebagai seorang sastrawan yang baru mulai menggunakan bahasa Inggris pada usia 20an,seperti yang diakuinya, Ha Jin sama seperti tokohnya: sebuah sponse yang mampu menyerap bahasa, bunyi, nada, aroma dan rasa untuk kemudian dia susun dan dia tumpahkan kembali menjadi novel yang asyik dibaca sekaligus meninggalkan kepedihan. Karena hidup, menurut Ha Jin, tak selalu tentang rasa bahagia.

Leila S.Chudori (Berlin)